MATIUS 5: 13-20
Kata integritas berasal dari akar kata Latin: integer dan menyiratkan keutuhan pribadi. Sama seperti kita berbicara tentang bilangan bulat, demikian juga kita dapat berbicara tentang orang utuh yang tidak terbagi. Seseorang yang berintegritas adalah orang yang hidup dengan benar, jujur, tidak terbagi, atau menjadi orang yang berbeda dalam keadaan yang berbeda. Seseorang yang berintegritas adalah orang yang sama baik secara pribadi ataupun di depan umum.
Ketika mengajar di bukit, Yesus memberikan perkataan pujian kepada para murid, “Kamu adalah garam dunia, Kamu adalah terang dunia.” Yesus yang yakin akan kemampuan pemuridan pengikutnya mendorong mereka untuk mencerminkan sukacita Kerajaan Allah dalam cara mereka hidup sebagai murid, yaitu dengan “membawa cita rasa dan menjadi mercusuar cahaya.” Seseorang yang merupakan garam dunia dan terang dunia adalah orang yang berintegritas, berkarakter dan yang terbaik.
Ajaran Yesus tentang garam dan terang (Matius 5:13-16) tentu sangat familiar bagi kita. Garam dan terang keduanya merupakan komoditas yang berharga pada zaman Yesus. Keduanya menopang kehidupan. Keduanya tidak dapat diproduksi sendiri dengan mudah. Keduanya adalah karunia ciptaan yang membutuhkan kecerdikan dan kecermatan dalam mengakses dan melestarikannya. Keduanya sungguh membuat semua perbedaan. Ajaran Yesus bukan hanya tentang apa Kerajaan Allah itu, tetapi juga tentang integritas para murid, tentang siapa kita sebenarnya, seperti apa kehidupan baru kita di alam baru ini, lezat dan bercahaya.
Menjadi murid Yesus tidak untuk duduk dalam kenyamanan atau sekadar memberi tahu orang lain tentang betapa hebatnya kehidupan berkelimpahan yang kita miliki. Yesus sedang berbicara kini dan di sini tentang kehidupan yang berdampak nyata bagi orang lain di dunia. Kita adalah cita rasa dengan menambahkan garam pada kehidupan di sekitar kita. Kita adalah terang yang memperjelas jalan keadilan kerajaan Allah. Yesus ingin agar kita enak dan bersinar untuk membuat perbedaan bagi Tuhan di dunia. Baik garam maupun terang tidak ada untuk diri mereka sendiri. Mereka hanya memenuhi tujuan mereka ketika digunakan, dicurahkan. Sama seperti Yesus memberikan dirinya kepada orang lain. Garam dan terang tidak bersembunyi dalam ketidakjelasan dan ketakutan tetapi menembus dan mengubah lingkungannya. Demikian pula para pengikut Yesus dipanggil untuk ada bagi orang lain. Garam dan terang menggambarkan integritas Kristen. Metafora yang kuat ini memanggil kita untuk percaya diri dalam menjalani dan membagikan iman kita. Amin