Matius 3: 1-12
Adakah di antara kita yang hidup tanpa pernah mempunyai harapan-harapan? Ada yang mengatakan bahwa kita tidak akan bisa benar-benar menghidupi sebuah kehidupan jika kita berjalan tanpa sebuah harapan. Itu seumpama kita berjalan di tengah lorong yang gelap, tanpa kita tahu di mana ujungnya, atau bahkan kita tidak tahu, apakah lorong tersebut akan ada ujungnya. Mungkin di awal kita akan dengan semangat berjalan melewati lorong tersebut. Akan tetapi, pada suatu titik, kita akan merasakan kelelahan yang luar biasa. Perasaan capek yang bercampur dengan kemarahan serta ketidaktahuan, perlahan akan membawa kita pada titik jenuh dan keputusasaan. Dalam situasi tersebut, kita mungkin akan sangat sulit membayangkan sebuah pengharapan, apalagi menghidupinya. Lalu bagaimana kita dapat terus hidup dalam pengharapan dan menghidupi pengharapan seturut dengan kehendak Tuhan? mari kita belajar dari bacaan sabda kita saat ini.
Seruan pertobatan seakan menjadi tanda dimulainya pelayanan Yohanes Pembaptis. Kalimat “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (ay. 2) memperlihatkan tentang apa yang menjadi tugas Yohanes Pembaptis, yaitu mempersiapkan jalan bagi Tuhan untuk berkuasa dan memerintah. Yohanes Pempatis mengingatkan bahwa pemerintahan dan kekuasaan Tuhan itu harus dibarengi dengan upaya dari sisi manusia untuk melakukan pertobatan. Tanpa adanya pertobatan, manusia tidak akan bisa masuk ke dalam pemerintahan tersebut dan tidak akan bisa merasakannya. Lebih lanjut, Yohanes Pembaptis menambahkan bahwa pertobatan itu haruslah menghasilkan buah yang nyata dalam kehidupan manusia (ay. 8). Artinya bahwa “mandi” yang dilakukan oleh mereka sebagai tanda pertobatan, haruslah juga dibarengi dengan tindakan serta kehidupan yang mencerminkan pertobatan itu sendiri sehingga kemudian mereka beroleh pengharapan dalam anugerah yang akan diberikan oleh Tuhan melalui kedatangan Sang Mesias.
Pengajaran dari Matius ini membawa kita untuk merefleksikan kehidupan yang sudah kita jalani. Untuk menjadi orang-orang yang benar-benar bisa menghidupi pengharapannya dengan mampu menghadirkan pengharapan dan kehidupan bagi seluruh makhluk, kita harus terlebih dahulu menghidupi pertobatan. Seruan pertobatan yang disuarakan oleh Yohanes Pembaptis, kiranya dapat menjadi suara yang senantiasa menggema dalam hati dan hidup kita. Tidak ada orang yang bisa merasakan damai tanpa sebuah pertobatan. Tidak ada orang yang mampu membagikan damai juga tanpa sebuah pertobatan. Amin.