MATIUS 4: 12-17 dan MATIUS 5: 16
Ibu, bapak..
Apakah ada di antara kita yang takut pada gelap? Pasti ada nggih? Bila kita mengalami mati listrik di malam hari, tentu saja kita menjadi tidak leluasa bergerak. Biasanya kita akan berusaha agar senantiasa mendapatkan terang dengan memakai lampu, senter, atau lilin. Disadari atau tidak, alat penerang yang kita pergunakan itu tentu saja kita letakkan di tempat yang terbuka agar cahayanya dapat terpancar ke semua penjuru. Akan terasa sia-sia jika kita menyalakan lampu apabila lampu itu kita tutup. Hal ini sama seperti perjalanan hidup kita. Ada kalanya kita berjalan dalam gelap sehingga membutuhkan terang, tetapi setelah mendapatkan terang apa yang selanjutnnya akan kita lakukan? Pertanyaan refleksi ini akan membawa kita untuk memahami bacaan sabda kita saat ini.
Ibu, bapak..
Dalam Injil Matius ini, penulis mengajak kita merefleksikan bahwa terang Allah sudah datang melalui Tuhan Yesus dan bagaimana terang Kristus menjangkau seluruh ciptaan. Injil Matius menunjukkan bahwa Yesus memulai karya-Nya justru bukan di wilayah Yudea, melainkan di Galilea yang merupakan daerah yang terpinggirkan. Terang Kristus justru datang pertama kali menyapa orang-orang yang sering kali dipandang sebelah mata oleh dunia. Untuk itulah, setelah Yesus berkata bahwa IA adalah Terang Dunia, Yesus melanjutkan dengan memberikan kekuatan kepada orang banyak itu dan berkata dalam pasal berikutnya, yaitu Matius 5:16, “demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Sorga”. Orang yang percaya kepada Yesus telah melihat Terang Dunia. Orang percaya yang telah melihat Terang itu, memancarkan pula terang-Nya, karena itu semestinya, orang percaya hidup sebagaimana terang dunia.
Ibu, bapak..
Melalui bacaan sabda kita saat ini, kita mendapatkan pengajaran bahwa Allah memanggil kita yang mungkin seringkali tidak diperhitungkan, tetapi justru yang memperoleh kesempatan untuk melihat terang melalui Tuhan Yesus. Dan ini membawa konsekuensi logis bahwa, sebagai anak-anak Allah, hendaknya kita pun dapat menjadi terang bagi sekitar. Inilah yang menjadikan hidup kita sebagai kehidupan yang memberi dampak pada sekitar.
Tetapi jangan sampai terang itu menjadi racun nggih. Kok bisa menjadi terang malah racun? Terang bisa meracuni kehidupan kita, jika: pertama, terang membuat kita ingin selalu tampil paling baik. Kedua, kita menganggap bahwa orang yang ada di luar kita akan terus mengawasi kita. Ketiga, menjadi terang hanya kita pahami tentang moralitas tidak boleh ini dan itu plus harus melakukan ini dan itu.
Lalu bagaimana menjadi terang yang tidak meracuni? Caranya? Dengan menjadikan Tuhan sebagai poros hidup, sehingga segala yang “keluar” dari kehidupan kita dapat memancarkan kasih, keadilan, dan terang Injil. Oleh karena itu, kita membutuhkan hikmat Tuhan agar bisa menghidupi identitas kita menjadi terang.
Sebagai penutup, kiranya ungkapan dari Michael Oyetade ini akan menjadi pengingat bagi kita: Bersinar bukan berarti propaganda diri, publisitas diri, pemuliaan diri. Bersinar berarti menghasilkan buah hidup kita, membawa hidup dan terang bagi sesama. Ini adalah tentang perbuatan yang berdampak positif bagi sesama. Amin