MAZMUR 40: 2-12
Apakah kita atau seseorang pernah mengalami atau dapat merasakan pengalaman hidup bersama Tuhan, mungkin pengampunan Tuhan, penyelamatan atau pertolongan Tuhan, atau titik balik kehidupan yang mengubah hidup kita secara drastis. Pengalaman-pengalaman itu adalah pengalaman yang khas, spesifik, yang mungkin tidak dialami oleh orang lain. Namun, secara khusus dialami oleh kita. Jika saudara belum dapat menyebutkannya, tidak perlu berkecil hati. Itu tanda bahwa kita perlu terus melatih diri, mengasah kepekaan untuk merasakan jamahan Tuhan dalam hidup kita, karena kadang kita mengalaminya, namun kurang dapat menangkapnya. Bagi Bapak Ibu Saudara yang sudah dapat menyebutkan pengalaman spesifik dalam relasi dengan Tuhan, maka kita tidak perlu lekas puas. Sebab, dimensi pengalaman tidak hanya soal memiliki pengalaman bersama Tuhan, namun bagaimana pengalaman itu mampu mendorong kita untuk memiliki hidup yang berdampak bagi orang lain. Jadi, jika Tuhan mengangkat kita, lalu apa respons kita?
Dalam Mazmur 40, pemazmur menaikkan sebuah pujian karena Tuhan sudah mengangkatnya dari “lobang kebinasaan dan lumpur”. Tuhan tidak menghendaki berbagai jenis korban sebagai ungkapan syukur itu, yang dikehendaki adalah kesediaan hati untuk mendengar (ay. 6), melakukan kehendak Tuhan, dan mewartakan tentang keadilanNya (ay. 8-11). Dari sini, kita belajar bahwa ungkapan syukur terbaik adalah perubahan hidup yang semakin seturut dengan Tuhan dan hidup berdampak bagi orang lain. Kehidupan semacam ini menjadi kesaksian tentang Kristus, yang pada akhirnya dapat membawa orang kepada Kristus.
Tema “Dia Mengangkatku, Lalu?” mengisyarakatkan sebuah pengakuan akan pengalaman pribadi seseorang bersama dengan Allah. Ini adalah pengalaman yang sangat spesifik yang dialami oleh seseorang dalam relasinya dengan Tuhan. Pengalaman (experience) adalah salah satu dimensi spiritual, yang berkaitan dengan bagaimana seseorang memiliki pengalaman “hidup berjalan dengan Tuhan”. Pengalaman-pengalaman itu dapat berupa titik balik kehidupan, transformasi, kedekatan dengan Tuhan, bagaimana memaknai hidup yang seringkali tidak sesuai dengan harapan, dan bagaimana menerima hal itu dipandang dari relasinya dengan Tuhan. Untuk kemudian, pengalamanpengalaman itu menjadikannya memiliki hidup yang berdampak bagi sekitar. Hidupnya menjadi sebuah kesaksian tentang kebaikan Tuhan yang sudah mengangkatnya. Amin