KOLOSE 1: 11-20
Kita tentu pernah berhadapan dengan situasi disaat sedang mengalami perseteruan dengan orang yang mereka kasihi, anggota keluarga, teman bisnis atau teman kerja, atau pun antar kelompok orang. Apakah perseteruan itu mendatangkan hal yang positif atau malah merusak hubungan? Ini baru dengan sesama, pernahkah kemudian kita berpikir bahwa seringkali kita juga berseteru atau menganggap diri kita bertentangan dengan Tuhan, sehingga kita semakin jauh masuk ke dalam dosa? Perseteruan dengan TUHAN ini mengakibatkan kita berada di dalam kondisi tidak damai sejahtera, tidak selamat, dan tidak bisa mendapatkan hidup kekal. Walaupun demikian, sebagai orang percaya, kita telah menerima karya Tuhan Yesus Kristus adalah menjadi sang pendamai antara kita manusia dengan Allah, tetapi terkadang itu semua tidak berdampak ke dalam kehidupan kita dan hanya sebagai sebuah perayaan saat menjelang hari natal atau paskah saja. Kemudian apa yang harus kita lakukan agar kita dapat merasakan damai sejahtera dan mewujudkan damai itu dalam kehidupan? Kita dapat belajar dari bacaan kita saat ini.
Sebuah surat kiriman yang berisi pujian dari Paulus kepada jemaat di kota Kolose, dimana kehidupan jemaat secara iman dan spiritualnya dipandang oleh Paulus mengalami kemajuan yang luar biasa. Mereka disebut sebagai orang-orang kudus yang menerima karunia dari Allah Bapa untuk menjadi bagian sebagai orang-orang yang akan mendapat tempat di dalam kerajaan Allah (ay. 12). Jemaat Kolose juga menjadi kebanggan bagi Paulus sehingga selalu diingat dalam doa dan dikenang pertumbuhan iman yang telah dicapai oleh mereka sehingga mencapai kedewasaan penuh (ay. 3,4). Kehidupaan yang mengalami pertumbuhan iman ini disebabkan karena pengenalan mereka akan berita Injil dan karya keselamatan melalui karunia Allah Bapa di dalam diri Yesus Kristus. Perubahan dasar pada kehidupan jemaat di Kolose ini menjadi tonggak perjalanan pertumbuhan iman mereka hingga mencapai kedewasaan penuh. Paulus juga mengajarkan tentang keutamaan Kristus di dalam iman percaya mereka. Bahwa Yesus Kristus itu adalah TUHAN, gambar Allah yang nyata, dan Yesus adalah Allah pribadi yang telah menjelma menjadi manusia dan diam diantara umat manusia di Bumi (ay. 15-20). Keutamaan Yesus Kristus sebagai yang sulung dari karya penyelamatan TUHAN, menjadikan setiap orang menjalani hidup yang baru, meninggalkan perbuatan yang lama; agar dengan ini kemuliaan Allah di dalam Yesus Kristus akan terpancar di dalam kehidupan setiap orang yang menjadi milik kepunyaan TUHAN. Yesus Kristus juga sebagai satu-satunya yang sanggup mendamaikan Allah yang Maha Kudus dengan manusia yang berdosa, oleh darah salibNya (ay. 20).
Melalui bacaan kita saat ini, kita kembali diingatkan tentang pengorbanan yang sedemikian besar yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus yang mendamaikan kembali hubungan manusia dengan TUHAN Allah. Sebagai orang-orang yang telah menerima kebaikan dari Yesus Kristus Sang Juru Selamat berupa karya pendamaian, kita kemudian perlu menyatakan sikap hormat terhadap karya tersebut dengan berpola hidup baru. Caranya yaitu dengan menjiwai semangat karya dari Yesus Kristus Sang Juruselamat yang telah mendamaikan manusia dengan TUHAN Allah. Wujud pola hidup baru bisa dinyatakan dengan kita menunaikan tanggung jawab dengan tulus, rendah hati, baik dan benar. Juga bisa diwujudkan dalam upaya mengembangkan nilai persekutuan dan pelayanan dengan semangat kasih, rela berkorban, pengampunan, dan perdamaian. Bahkan bisa diwujudkan pula dalam membangun hubungan antar pribadi di dalam keluarga, tempat bekerja, maupun masyarakat; yaitu berelasi penuh suasana damai, tidak mudah berseteru, saling mengampuni, dan mudah mengakui kesalahan masing-masing serta murah memberi maaf kepada sesama yang membutuhkan. Amin